I don't want a lot of things. I just want to invite you to think together!

Pages

Tuesday, 30 April 2013

Smada : Ikatan Keluarga, dan Laut yang Menempaku


Smada : Ikatan Keluarga, dan Laut yang Menempaku
       
 “Berpamitan berangkat ke sekolah, tetapi tak pernah ada dikelas. Tas yang seharusnya ada di bangku kelas XI IPA 3 malah ada di ruang OSIS. Ibarat seminggu itu ada 6 hari masuk sekolah, mungkin hanya sehari aku masuk sekolah, itulah dispensasi(bahasa halusnya bolos)”

Tentang OSIS : Keluarga abadi yang mengajarkan ketangguhan

Aku benar – benar merasa tak masuk akal ketika menginjak kelas 11 SMA. Hakikatnya orang tua mengirimku ke sekolah adalah untuk sekolah, namun yang kulakukan adalah merusak peraturan sekolah dengan dispensasi bolos sekolah yang kubuat dengan anak – anak OSIS sendiri. Aku merasa tak masuk akal ketika aku diberi uang oleh sekolah 25 juta, tetapi acara – acara yang kutargetkan hampir mencapai seratus juta. Karena ketidakmasukakalan tersebut, aku semakin berpikir masih bisakah aku sekolah dengan tenang? sedangkan aku harus berpikir untuk acara – acara yang kubuat di OSIS dengan anggaran yang defisit hampir 75 juta. Disinilah aku mulai berani mengambil jalan hidupku untuk berjuang meninggalkan kewajibanku sebagai pelajar. Jelas taruhannya adalah masa depanku, aku yang semakin hari semakin bodoh, sedangkan teman – temanku yang dapat bersekolah dengan normal, mereka semakin hari semakin jauh meninggalkanku.

Akhir – akhir ini aku baru sadar manfaat ketika aku dulu meninggalkan kelas untuk satu tujuan penting. Aku dan teman – teman OSISku benar – benar menjadi pribadi yang lebih kuat dibanding anak – anak seusiaku. Memang kami adalah kambing hitam di kegiatan kami. Tidak pernah dipuji ketika kegiatan kami sukses, dan menjadi bahan cemo’oh ketika kegiatan kami gagal. Tapi hal itu benar – benar membuat kami menjadi orang yang tangguh. Kalau orang biasa lelah ketika disuruh mengerjakan tugas 6 jam, kami tidak selelah mereka. Karena kami pernah 24 jam tidak tidur hanya untuk menyelesaikan proposal dan berkas – berkas kegiatan. Jika orang biasa bingung ketika harus lembur mengerjakan tugas dan menginap di kampus, kami sudah biasa ketika menggarap karnaval Kabupaten untuk 7 hari siang dan malam tidak pulang ke rumah untuk mengerjakan tugas menghias mobil karnaval di sekolah.

Satu hal dalam kepengurusan OSIS yang tak pernah kulupakan adalah ketika aku sering berbeda pendapat dengan guru – guru. Terutama mengenai suatu kegiatan yang kami percaya bisa terlaksana, namun pihak guru tidak menyetujuinya. Aku adalah tukang protes, apa yang menurutku ideal harus terlaksana, jika tidak terlaksana aku akan protes. Itulah pribadiku, pribadi orang berkepala granit yang lebih keras daripada kepala batu. Bahkan aku pernah mengerahkan teman – teman OSIS untuk bersama – sama memprotes kebijakan guru di rumahnya(demonstrasi kecil – kecilan), sebuah cara yang umumnya tak pernah dilakukan oleh anak SMA. Menurutku, kebenaran adalah hal yang harus dijunjung setinggi – tingginya.  Memang jika kita memilih jalan yang jujur, hidup kita akan dihadang oleh batu – batu yang terjal. Tak jarang kita jatuh tersungkur. Kita hanya memiliki pilihan bangkit lagi dan meneruskan perjalanan, atau berjalan mundur ke belakang. Kalau aku, aku akan tetap berjalan ke depan meskipun itu terjal, karena aku adalah granit yang lebih keras daripada bebatuan terjal.

Pada intinya pilihan menjadi pengurus OSIS Smada adalah pilihan yang sangat berisiko. Pilihan yang tak populer, pilihan yang mengancam masa depan. Tapi satu prinsip yang menguatkan kami. “pelaut yang hebat tidak pernah dilahirkan di laut yang tenang”. Kami adalah para pelaut yang ditakdirkan mendapat laut – laut yang buas, ombak – ombak yang ganas, dan karang - karang yang terjal ketika menapak. Kami memilih untuk menghabiskan waktu kami untuk berdiskusi, berorganisasi, berhubungan dengan masyarakat, dan mencari sponsor yang kata orang itu membuang waktu. Tapi aku yakin kami adalah orang – orang yang akan menjadi pelaut yang tangguh di masa depan, generasi pemimpin bangsa yang tangguh.

Kehidupan akademis : dua tahun menjadi hipokrit/munafik

aku adalah siswa SMAN 2 Nganjuk kelas XI IPA 3. Banyak orang yang menganggap jika anak yang masuk dalam jurusan IPA di SMADA adalah anak yang pintar. Sebenarnya inilah titik kebobrokan dari masyarakat Indonesia, IPA seakan – akan dikonstruksikan sebagai jurusan yang superior, jika masuk IPA masa depanmu akan terjamin, jika masuk jurusan IPS dan Bahasa masa depanmu akan terkatung – katung. Begitu kuatnya doktrin ini sehingga aku menjadi terpengaruh untuk masuk jurusan IPA. Padahal jelas – jelas passionku di bidang sosial humaniora. Hal ini benar – benar membuatku hanya menjadi pecundang di kelas. Hanya bisa menjadi rata – rata, hanya dapat bertengger di peringkat tengah. Aku merasa menjadi orang yang sangat munafik ketika itu. Aku selalu dicemooh guru gara – gara nilai ulanganku yang selalu jelek dalam mata pelajaran IPA.

Aku benar - benar tidak menikmati ketika kelas XI. Aku benar – benar merasa sakit hati hampir setiap hari aku diremehkan guru – guru karena nilaiku yang tak kunjung membaik. Saat itulah aku bersumpah aku akan membalas dendam pada semua cemo’ohan itu. aku bersumpah akan menunjukan aku bisa masuk di perguruan tinggi favorit dan mengalahkan teman – temanku yang sering mendapat pujian dari guruku. Aku berprinsip cara membalas dendam yang terbaik adalah dengan membuktikan bahwa “I’am not as you think, and I have more abilities than others”.

Suatu hari pada saat awal kelas XII aku datang ke ruang BK untuk mencari informasi tentang pilihan mengenai jurusan. Waktu itu aku benar – benar buta tentang dunia perkuliahan, bahkan aku baru tahu bahwa UI dan ITB adalah perguruan tinggi favorit ketika aku kelas XII. Impian masa SMP ku adalah ketika saat kuliah nanti aku mengambil jurusan kesenian di ITS. Oh betapa bodoh dan polosnya  aku jelas – jelas ITS itu institut teknologi yang mengembangkan ilmu dibidang teknologi. Saat aku melihat pilihan jurusan, aku benar – benar belajar dari kesalahan untuk tidak mengambil jurusan yang aku tidak suka. Aku tak mau lagi menyesal dalam kemunafikan seperti saat aku harus belajar IPA yang sebenarnya tak kusukai.

Akhirnya pilihanku jatuh pada dua program studi yaitu HI dan Antropologi. Pada saat tahunku anak yang dapat mengikuti SNMPTN Undangan (semacam PMDK) adalah yang 50% peringkat atas dan harus konsisten, aku tidak termasuk dalam kuota tersebut karena nilai kelas XI ku benar – benar hancur. Oleh karena itu tak ada jalan lain selain mengikuti  ujian tulis SNMPTN. Dari situ aku mulai belajar lagi pelajaran IPS. Mulai dari itu perasaan kebencian terhadap kecemo’ohan kukonversikan menjadi semangat balas dendam. Jika anak – anak tekun memperhatikan ketika guru ketika menerangkan fisika aku malah membuka buku sejarah ataupun ekonomi yang kubawa dari rumah untuk kubaca. Tasku tak pernah meninggalkan buku – buku IPS untuk kubaca. Kemanapun aku pergi, buku – buku itu selalu kubawa.

Akhirnya usahaku membuahkan hasil, aku diterima di salah satu perguruan tunggi terfavorit di Indonesia. Aku sekarang adalah mahasiswa Universitas Indonesia, jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Inilah wujud balas dendamku yang kukonversi menjadi energi kebaikan. Aku tak perlu belajar sekeras dulu untuk mendapatkan nilai yang baik, mungkin inilah kekuatan passion.  Aku disini juga sering bertemu dan berdiskusi pada acara seminar dengan orang – orang besar semacam Dahlan Iskan, Adyaksa Dault, Joko Widodo, Chairul Tanjung dsb.

 Tetapi satu yang tak pernah berubah dariku dari dulu yaitu suka bolos dan suka protes. Aku masih sering bolos di mata kuliah yang kurasa kurang menunjang/dosennya kurang kompeten. Aku lebih senang bolos pada mata kuliah tersebut untuk membaca buku – buku berkualitas di kos – kosan. Menurutku kuliah yang terlalu terkotak – kotak dengan sistem hanya akan membuat otakmu jadi robot, yang pada akhirnya cuman bisa dicetak menjadi karyawan – karyawan/robot perusahaan.  Aku juga suka protes ketika dosenku salah menerangkan. Meskipun akhirnya berdampak pada nilai yang kudapat. Aku benci teman – temanku yang pengecut, yang tak pernah memprotes guru ketika salah. Mereka itu merasionalisasikan kepengecutan sebagai kepatuhan. Mereka pura – pura patuh untuk mendapat nilai yang bagus. Inilah sebenarnya bibit – bibit kemunafikan yang bersemi dalam pendidikan kita. Inilah potret – potret pelacur akademis yang hanya mencari nilai saja. Jika aku menjadi guru, aku akan berikan muridku yang terbodoh mendapat  nilai 95. Supaya apa? Supaya anak – anak tahu betapa tidak berharganya nilai (dibandingkan ilmu pengetahuan).

Akhir kata aku hanya bisa berpesan sedikit pada kalian teman – teman. Orang munafik sejatinya tak akan pernah dihargai, orang munafik hanyalah memiliki kebahagiaan semu atas sebuah gengsi, dan orang munafik paling mentok bakal jadi karyawan. kalau ada orang munafik sukses itu karena tuhan terlalu baik (maha baik). Orang yang terlalu patuh, rajin dan teratur dalam sistem hanya akan menjadi budak – budak borjuis(pemilik perusahaan/modal), robot – robot perusahaan, dan karyawan bergaji rendah sampai menengah. Juara kelas bukanlah indikator kehebatan seseorang secara mutlak. Tetapi semangat berkaryalah yang enjadi kunci keberhasilan.  Thomas alva edison tak perlu sekolah untuk bisa menemukan lampu pijar, Einstein juga tak pernah menjadi mahasiswa yang rajin masuk kuliah untuk menemukan teori relativitas khusus. Mereka besar karena kerja keras, disiplin, ulet, mempunyai prinsip, tak gentar bersaing, pantang menyerah dan selalu berkarya.

“Dulu ketika aku SMA saat ulangan temanku mendapat nilai hampir sempurna di semua mata pelajaran, aku selalu dibawahnya. Tetapi sekarang dia adalah mahasiswa di salah satu pergguruan tinggi, sedangkan aku adalah mahasiswa di perguruan tinggi favorit

Maaf jika tulisan ini mungkin agak sombong, hakikatnya membagikan cerita inspirasi ke orang lain harus menceritakan tentang kebaikan diri sendiri yang jelas akan sangat sulit untuk mengkonversikan dalam tulisan yang lebih rendah hati. Semoga  teman – teman dapat mengambil sisi baiknya dari tulisan ini. Salam sukses!


Depok, 30 April 2013
Chairul Anam Bagus Haqqiasmi
 
Share this post
  • Share to Facebook
  • Share to Twitter
  • Share to Google+
  • Share to Stumble Upon
  • Share to Evernote
  • Share to Blogger
  • Share to Email
  • Share to Yahoo Messenger
  • More...

1 comments

  1. ceritanya osis hampir sama seperti saya bro!

    ReplyDelete

:) :-) :)) =)) :( :-( :(( :d :-d @-) :p :o :>) (o) [-( :-? (p) :-s (m) 8-) :-t :-b b-( :-# =p~ :-$ (b) (f) x-) (k) (h) (c) cheer

 
© Angkringan Intelektual
Designed by BlogThietKe Cooperated with Duy Pham
Released under Creative Commons 3.0 CC BY-NC 3.0
Posts RSSComments RSS
Back to top